Sampingan

PROPOSAL TESIS TAFSĪR SURAH AL AʿLĀ  MULLA SADRA (STUDI ANALISA

24 Jun

PROPOSAL TESIS

 

TAFSĪR SURAH AL AʿLĀ  MULLA SADRA

 (STUDI ANALISA PRINSIP-PRINSIP FILSAFAT HIKMAH MUTAʿĀLIYAH)

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam pandangan sebagian para filsuf Islam, kesimpulan-kesimpulan filsafat yang berlandaskan pada hukum-hukum rasional yang swabukti haruslah selaras dengan wahyu. Oleh karenanya, upaya penyelarasan antara filsafat dengan ajaran-ajaran dan klaim-klaim keagamaan sudah dilakukan semenjak masuknya ajaran-ajaran filsafat Yunani hadir di dunia Islam[1]. Melalui spirit Al Quran dan hadis Nabi[2], para filsuf muslim berupaya semaksimal mungkin menyelaraskannya dengan ajaran-ajaran Islam[3]. Mereka yakin bahwa rahasia keabadian Al Quran terletak pada prinsip-prinsip rasionalnya. Bahkan keselarasan antara muatan Al Quran dengan prinsip-prinsip rasional yang kokoh menyebabkan ajaran-ajarannya selalu hidup, dinamis dan tetap terjaga sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa upaya penyelarasan ini setua dengan umur perkembangan filsafat islam itu sendiri. Hal ini nampak dari  pernyataan Al Farabi sebagai komentator Aristoteles dan guru kedua bagi filsuf peripatetik; “Syariat yang benar lahir dari pangkal akal, jadi mustahil terjadi pertentangan antara keduanya[4]”. Akan tetapi kerja keras filsuf peripatetik ini tidak banyak memberikan keberhasilan yang belum memuaskan, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan yang berkaitan dengan ilmu jiwa ataupun  ajaran-ajaran yang berkaitan dengan keadaan yang akan dialami manusia pasca kematian (ilm al ma’ād)[5].

Upaya tersebut dilanjutkan oleh Suhrawardi dengan melengkapi beberapa perangkat yang tidak dimiliki oleh pendahulunya, yakni selain  berpegang pada argumentasi akal untuk menyingkap realitas eksternal (maqām tsūbūt), juga menjalani suluk irfani dan penyucian jiwa. Akan tetapi, secara umum upaya realisasi pendiri filsafat iluminasi (Isyrāqiyah) ini juga belum cukup berhasil secara signifikan terutama pada saat afirmasi kebenaran realitas kepada orang lain (maqam ke-dua/ maqām istbāt)[6].

Dan akhirnya di tangan Mulla Sadra usaha ini tampak mencapai keberhasilan yang sangat besar. Sadra, dengan menggabungkan elemen-elemen penting yang diwarisi dari filsafat peripatetik, Isyrāqiyah dan ajaran-ajaran agama Islam (aqīdah qo’iyah diniyyah), telah berhasil menyusun filsafat Hikmah Mutaʿāliyah. Sebuah filsafat yang diakui telah mampu memberikan argumentasi yang kuat bagi terjalinnya keselarasan antara prinsip-prinsip rasional filosofis dan kasyf dengan klaim-klaim keagamaan yang tergali dari Al Quran, ucapan Nabi dan para Imam suci. Makanya tidak berlebihan,  jika Muthahhari menyatakan bahwa Mulla Sadra telah meletakan prinsip-prinsip filsafat yang sangat penting sehingga di tangannya-lah berakhir pertentangan yang alot sepanjang 2000 tahun lamanya[7].

Sebagai wujud dari keseriusan para filsuf untuk menjawab tantangan-tantangan  diatas, munculah beberapa filsuf yang menulis tafsir Al Quran. Diantara para filsuf yang mencoba untuk mengomentari Al Quran, Mulla Sadra termasuk yang terdepan dan memiliki tempat istimewa.[8] Karya tafsir Sadra bisa dikategorikan dalam dua jenis, yakni tafsīr atas surah dan tafsīr atas ayāh. Beberapa surah Al Qur’ān yang telah dikomentari Sadra diantaranya; Surah Al Fātiha, Al Baqarah, as Sajda, Yāsin, al Hadīd, al Wāqiʿa, al Jum’ah, al Ṭāriq, al Aʿlā dan al Zilzāl. Sedangkan untuk kategori ayāh ada tiga, yakni; ayāh al Kursi , ayāh an Nūr dan Q. 27 (al Naml): 88.[9]

Selain Tafsīr Al Qur’ān al Karīm yang berjumlah 7 jilid, Mulla Sadra telah menulis secara khusus beberapa karya teoritis terkait dengan Al Qur’an, yakni: Mafātih Al Ghayb, Mutasyābihāt al Qur’ān dan Asrār al Ayāt wa anwār al bayināt. Mafātih Al Ghayb berisi tentang pengantar tafsir Al Quran yang membicarakan tentang metode dan prinsip-prinsip ta’wil-nya. Selain itu, karya penting ini memuat juga tentang nilai-nilai etik, metafisika dan pesan-pesan spiritual Al Quran. Mutasyābihāt al Qur’ān merupakan risalah singkat yang mengurai tentang beberapa ayat-ayat al Quran yang homonim (mutasyābihāt), beserta metodologi tafsir Sadra terkait ayat-ayat tersebut. Sedangkan Asrār al Ayāt wa anwār al bayināt menyajikan misteri/ makna-makna esoteris ayat-ayat al Quran yang berkaitan dengan Tuhan, makhluk (alam), manusia dan tujuan ultimate manusia.[10]

Lewat karya-karya tersebut, khususnya Mafātih Al Ghayb Sadra menekankan pentingnya pendalaman pemahaman Al Quran,  mengkritik kebiasaan kebanyakan manusia yang kurang berusaha menggali makna-makna Al Qur’an dan sekedar mencukupkan diri dengan sebatas menukil dari  karya para Mufasir.  

            Selanjutnya, terkait dengan beragamnya model, corak, motif dan metode penulisan tafsir Al Quran di yang digunakan oleh para mufasir, secara global Mulla Sadra mengklasifikasinya menjadi 4 kelompok, yakni; pertama, tafsir yang hanya berfokus pada makna literal dan makna verbal. Kedua, tafsir yang hanya menggunakan makna lahir Al Quran sebagai landasan etik dan hukum, dan merasa mencukupkan diri pada level ini. Ketiga, tafsir yang mengalihkan diri dari makna lahir dan lebih memilih ta’wīl bātinī (pengalaman intuitif). Keempat, tafsir yang tetap mempertahankan makna lahir, selanjutnya menggali misteri, rahasia dan makna batin Al Quran dengan bantuan fakultas-fakultas rasional, intuisi dan wahyu[11].

            Oleh karena itulah, Mulla Sadra mengklaim diri sebagai salah satu pendukung pandangan terakhir ini. Sebuah Tafsir yang melakukan penggalian makna terdalam dari ayat dengan tetap berpegang pada makna dhohir (literal)-nya.

             Dalam tafsirnya, Sadra tidak hanya menggunakan satu corak tafsir, akan tetapi corak yang mewarnai pada hampir semua karya tafsirnya selain rasional filosofis adalah bersifat gnostik dan mistik.

            Walaupun dalam tafsirnya ia kurang begitu tertarik pada aspek verbal dan literal ayat[12], tapi di beberapa tempat ia tidak meng-alpa-kan kajian semantik bahasa. Karya-karya yang biasa dijadikan rujukan terkait ketatabahasaan adalah semisal tafsīr majma’ul bayān, al baydawī dan kassyāf.  Dan terkadang juga menukil dari tafsīr al Rāzi dan Naysābūrī.[13]

            Sedangkan terkait metode tafsir (ta’wīl), Mulla Sadra menerapkan beberapa prinsip penting, diantaranya;

Pertama, Al Quran itu identik dengan wujūd atau eksistensi itu sendiri[14]. Atau dengan bahasa lain bisa dikatakan bahwa  alam semesta merupakan Kitab besar, sedangkan Al Qurʿan merupakan kitab kecil. Keberagaman dari kata dan frase dari Kitab suci Al Quran merepresentasikan dari keberagaman dari objek alam ini.[15] Jika setiap ayat Al Quran disebut sebagai ayāh yang memiliki arti sebagai tanda, maka demikian juga setiap fenomena alam semesta juga bisa disebut sebagai ayāh atau tanda manifestasi Tuhan, yang mana setiap fenomena tersebut bersaksi atas-Nya.

Sebagaimana eksistensi (being), Al Quran menurut Sadra memiliki 3 level kedalaman. Level tertinggi adalah firman Tuhan yang bersifat ‘sederhana (basī)’. Di bawah level tersebut adalah level imaginatif (simbolik) dari firman Tuhan, selanjutnya level terendah dari Al Quran yang terkait dengan panca indra dan bahasa[16]. Senada dengan pernyataan itu, Al Quran juga diidentikan dengan realitas manusia sebagai microcosmos, yang memiliki aspek lahir dan aspek batin[17]. Dan yang batin memiliki makna batin lagi, dan seterusnya hingga batas puncak yang hanya diketahui oleh Tuhan[18].          

            Jika realitas eksternal memiliki 3 level; fisik, spiritual dan supra-spiritual, maka Al Quran sebagai locus dari manifestasi 3 level tersebut juga memiliki 3 level tingkatan.  Level pertama adalah kategori verbal yang mana setiap orang yang memahami bahasa Arab secara baik bisa memahaminya. Selanjutnya untuk level spiritual atau esoterik yang hanya bisa ditanggap oleh orang-orang khusus.[19]  

Sebagai simbol dari realitas eksternal (the world of being) maka Al Quran mengandung lapisan ohīr dan bātin. Oleh karenanya, laksana hidangan dari langit, maka setiap orang akan bisa mendapatkan manfaat dari Al Quran sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semakin intens pengalaman intuitif seseorang, maka ia akan mampu menangkap makna dan maksud Al Quran lebih dalam lagi.[20]

Bahkan, sebagai bentuk dari rahmat Tuhan, Al Qur’an diturunkan dengan ribuan hijab agar bisa dipahami oleh akal-akal manusia yang lemah. Dalam hakikat ketunggalannya, Al Quran memiliki beragam tingkatan turun (nuzūl). Dan setiap tingkatan tersebut terdapat alam yang dinamakan dengan nama yang sesuai dengan tingkatannya secara khusus. Tingkatan yang berjalan pada Al Quran ini juga selaras dengan tingkatan realitas al Insān al Kamīl[21].

            Pembagian levelitas dan tingkatan realitas Al Quran ini menyerupai salah satu prinsip terpenting dari filsafat Sadra tentang tasykīk al wujūd.[22] Prinsip ini juga sangat dipengaruhi oleh teori kosmologinya yang sangat Platonistik[23].

Selanjutnya pada prinsip kedua, Al Quran memiliki level exoteric dan esoteric. Ayat-ayat Al Quran bisa digolongkan dalam dua kategori yakni yang muhkām (jelas) dan yang mutasyābih (bersifat ambigu dan memiliki makna ganda)[24].

Dalam memahami ayat-ayat mutasyābih tersebut, Sadra membagi kemampuan manusia  menjadi tiga tingkatan: [25]

Tingkatan pertama adalah orang-orang yang rāsih (mendalam ilmunya). Mereka adalah orang yang Allah telah anugerahi dengan kemampuan untuk menyingkap kebenaran, makna spiritual, misteri ilahi dan ta’wīl. Mereka mampu memahami dan menetapkan makna ayat tanpa merusak basis dari makna batin, sekaligus tanpa bertentangan dengan zohir ayat. Ini karena zohir ayat merupakan tanda bagi makna batin.

Kedua, golongan yang lahir dari para rasionalis dan filsuf. mereka yang menggunakan spekulasi akal. Mereka menta’wilkan ayat-ayat dan hadis-hadis, selanjutnya menyesuaikannya dengan kaidah-kaidah teoritis. Mereka sering memberikan ta’wil kiasan (alegori), dan tak jarang menyalahi dari aspek zohir ayat.

Ketiga, yakni ahli bahasa, ahli fikih, dan ahli hadis penganut Ahmad ibnu Hambal. Mereka setia pada makna literal ayat-ayat Al Quran, walaupun hal itu seandainya bertentangan dengan prinsip-prinsip rasional.

Dalam beberapa pembahasan,  Sadra tak jarang mengkritik pandangan-pandangan kelompok ke-dua dan ke-tiga tersebut.

Dan prinsip terakhir dari ta’wīl Sadra adalah adanya harmoni dan keselarasan antara akal (intelek) dan wahyu. Keduanya merupakan dua karunia berharga yang diberikan oleh Tuhan sebagai hujjah-Nya (bukti Tuhan dalam setiap diri manusia), sebagai hujjah bāṭin dan hujjah ẓāhir.[26]

Prinsip-prinsip tafsir (ta’wīl) yang digunakan Sadra ini memiliki kemiripan dengan jenis metode penafsiran yang sering digunakan oleh para sufi[27]. Hal ini ditandaskan oleh Sadra dalam beberapa tempat bahwa ia menulis beberapa tafsirnya atas karunia dan limpahan penyingkapan realitas[28]. Dalam muqoddimah tafsīr Surah Al Aʿlā misalnya, Sadra menyebut secara khusus bahwa metode penyingkapan sepiritual seperti yang dialaminya merupakan karunia dan limpahan (fay) yang diberikan oleh Dzat yang Maha Tinggi kepada beberapa gelintir dari hamba-Nya.[29]

Prinsip-prinsip dalam ta’wīl Sadra diatas juga identik dengan salah satu prinsip terpenting dalam filsafat wujudnya; al wahdah fi ‘ayinil katsroh wa al kasroh fi ‘ayini wahdah, yakni yang mengisyaratkan kesatuan dalam keberagaman dan keberagaman dalam kesatuan. Prinsip kesatuan wujud ini sekilas nampak paradoksal tapi sebenarnya mengandung dua penakmaan tematik yaitu yang bersifat epistemologis dan ontologis.

            Selanjutnya jika mengacu pada metode penulisan (sistematika penulisan tafsirnya),  ciri khas yang menonjol pada hampir keseluruhan  tafsir Sadra adalah setelah melakukan uraian atas mufrodāt kata, perbedaan cara baca dan beberapa kritik bagi pendahulunya kemudian ia melakukan ulasan (tahqīq) dengan berlandaskan pada argumentasi-argumentasi rasional atau memberikan ta’wīl atas istilah-istilah penting pada ayat sesuai dengan pengalaman mukasyafahnya atau menyandarkan argumennya pada hadis-hadis Nabi dan para Imam Syiah  atau pendapat-pendapat para ahli haq (‘ārif) semisal al Syeikh Al Akbar Ibnu Arabi

Kesan-kesan diatas mewarnai seluruh karya-karya tafsir Sadra. Dengan mengkajinya secara mendalam, kita akan dapat  menyaksikan elemen-elemen filosofis di dalamnya. Hubungan antara ayat-ayat Al Qur’an dengan seluruh argumentasi yang disajikan terjalin begitu harmonis. Untaian kalimatnya memiliki kedalaman makna dan cita rasa yang tinggi, ditambah lagi dengan perpaduan antara refleksi filosofis dengan cita rasa gnostik (dzauq irfanī) yang sulit ditandingi. Khusus pada tafsīr Surah Al Aʿlā kita akan melihat hubungan interaktif antara klaim-klaim keagamaan dan filsafat, khususnya dalam masalah ketuhanan, kenabian, dan kebangkitan, tampak terjalin sangat harmonis.

Dari pemaparan diatas, maka dapat diidentifikasi bahwa Sadra benar-benar berusaha menerapkan prinsip-prinsip filsafatnya dalam tafsirnya. Sejauh manakah keberhasilan Sadra? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan menjadi salah satu tujuan penting dari penelitian ini.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka peneliti tertarik untuk menjadikan Tafsir Mulla Sadra, khususnya  pada tafsīr Surah Al Aʿlā sebagai objek penelitian guna mengeksplorasi prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah apa saja yang beroperasi dalam tafsir ini dan menunjukan akan adanya keselarasan antara prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah dengan wahyu.

 

 

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah diatas, prinsip-prinsip filsafat Mulla Sadra yang dituangkan dalam beberapa komentarnya atas Al Quran sangat patut diperhitungkan untuk dijadikan bahan penelitian, karena masih ada anggapan dari sebagian kalangan bahwa filsafat itu berjarak dari teks-teks keagamaan.

Penelitian ini merupakan usaha untuk menguji dan menganalisa bagaimana Mulla Sadra menuangkan prinsip-prinsip filsafatnya ke dalam framework teologi ataupun kitab suci. Penelitian ini juga bisa menjadi suatu upaya untuk membuktikan akan adanya keselarasan antara prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah dengan wahyu. Peneliti akan meneliti kesesuian aspek-aspek penting filsafat Hikmah Mutaʿāliyah Mulla Sadra dengan beberapa karya komentarnya atas Al Quran, khususnya pada Al Qur’ān Surah Al Aʿlā.

Walaupun tafsir ini relatif singkat, ia akan tetap relevan untuk dijadikan model untuk membaca peta pemikiran Sadra dalam karya-karya tafsirnya apalagi pada tafsir ini permasalahan fondasi penting agama (uṣūluddīn) seperti ketuhanan, kenabian dan ma’ād bertemu dengan klaim-klaim filosofis dan dapat diidentifikasi secara jelas.

Pertimbangan lainnya adalah lebih terkait dengan teknis penelitian. Selain singkat, Tafsīr Surah Al Aʿlā juga dikategorikan paling sistematis. Ia memuat sebuah pendahuluan, tujuh bab dan sebuah paragrap penutup singkat. Setiap bab pada tafsir ini diawali dengan ‘tasbīh’ (sebuah deklarasi atas transendensi dan pemujaan atas kesucian Tuhan), dan setiap ‘tasbīh’ dikhususkan untuk satu atau beberapa kumpulan ayat Al Quran. Walaupun tafsir ini memaparkan beragam pokok persoalan terkait prinsip-prinsip pokok agama, tapi keseluruhan tema tersebut tetap diulas oleh Sadra dalam kesatuan tema pokok, yakni tentang ‘tasbīh’.

Tasbih pertama dan kedua dalam Tafsīr Surah Al Aʿlā menjelaskan argumentasi atas kesucian Dzat Tuhan dan sifat imaterialitas-Nya berlandaskan pada wujud makhluk (hewan dan tumbuh-tumbuhan), hikmah dibalik penciptaan dan kondisi-kondisi natural lainnya.[30] Selanjutnya pada tasbih ke-tiga, Sadra memaparkan beberapa burhān atas kesucian Dzat dan Sifat Tuhan dari segala macam cacat dan kekurangan dengan media penetapan fungsi kenabian. Pada bab ini, ada 3 tujuan utama yang menjadi inti pembahasan, yakni; pertama tentang esensi, sifat dan substansi Nabi sebagai realitas Insan Kamil. Kedua, berkaitan dengan tugas dan fungsi kenabian Ketiga, kondisi manusia terkait dengan kanabian dan insan kamil sebagai manifestasi sempurna nama-nama Tuhan.

 Pada bab-bab selanjutnya (tasbih ke empat hingga tasbih ke tujuh) Sadra mengulas tentang isu-isu eskatologi, keadaan jiwa manusia paska kematian, penetapan segala urusan kebangkitan dan penggolongan manusia dan jazā sesuai dengan ilmu dan amal masing-masing.

Selain argumentasi filosofis, prinsip-prinsip filsafatnya juga bisa dilihat walaupun prinsip-prinsip yang utama dari filsafat Hikmah Mutaʿāliyah Sadra seperti aṣālatul wujūd, tasykīk al wujūd dan harakah jauhariyah tidak tampak secara eksplisit. Prinsip kausalitas dan qāidah al imkān al asyrāf mendominasi seluruh argumentasi Sadra tentang Ketuhanan. Sedangkan ittihāt ilm, ālim wa ma’lūm, al nafs jismaniatul hudūst wa ruhaniatul baqā dan aktualisasi antara ‘aql naāri dan ‘aql amāli bisa diidentifikasi dalam ulasan Sadra tentang kenabian dan eskatologi.

Yang menjadi perhatian penting lainnya ketika menela’ah tafsir ini adalah argumentasi-argumentasi yang bersifat teologis dan mistik masih tercampur di dalamnya. Argumentasi yang bersifat filosofis mendominasi seluruh uraian dalam tafsir ini, tapi Sadra juga mewarnainya dengan burhan mistik dan penyingkapan mukasyafahnya. Pada beberapa pembahasan, Sadra hanya mengulas secara singkat karena ulasan-ulasan terkait kaidah-kaidah penting memerlukan ruang yang lebih luas dan telah dibahas olehnya dalam karya-karya lain, semisal dalam Mafātih Al Ghayb ataupun Asrār Al Ayāt.

 

C. Rumusan Masalah

Dari identifikasi masalah, penulis hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan penting terkait dengan tema penelitian, diantaranya;

  1. Prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah apa saja yang tertuang dalam Tafsīr Surah Al Aʿlā?
  2. Argumentasi apakah yang digunakan oleh Sadra dalam Tafsīr Surah Al Aʿlā untuk membuktikan kesucian Tuhan, hakikat kenabian dan keadaan manusia setelah kebangkitan? 

 

D. Signifikansi Penelitian

            Hasil dari penelitian ini memiliki nilai penting, diantaranya:

  1. Memperlihatkan klaim keselarasan antara wahyu dengan argumentasi filosofis (burhān) Mulla Sadra para tiga ranah penting (uūluddin), yakni; pada ketuhanan, kenabian dan ma’ād.
  2. Memberikan pemahaman bahwa mungkinnya (terbukanya peluang) untuk terjadinya keselarasan antara wahyu dengan klaim-klaim filosofis menyangkut klaim-klaim furū (cabang), yang hal ini ditolak oleh sebagian mutakallimīn (teolog).
  3. Memberikan kontribusi intelektual bagi masyarakat Indonesia dan memperkaya literatur dalam bidang filsafat Islam maupun tafsir Al Quran

 

E. Kajian Pustaka

            Mengevaluasi bibliografi merupakan suatu hal yang sangat berharga. Hal ini bisa memperkaya pengetahuan kita tentang tema penelitian. Hal ini juga bisa membantu kita untuk mencari suatu hal yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya.

            Walaupun penelitian terhadap filsafat Mulla Sadra telah banyak dilakukan, akan tetapi penelitian atas penggalian prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah dan relasinya dengan teks-teks keagamaan, khususnya pada naskah tafsirnya masih relatif jarang dilakukan. Dari hasil penelusuran yang telah dilakukan oleh peneliti terkait tema penelitian sejenis, peneliti hanya menemukan 3 karya ilmiah, yakni (a). sebuah artikel yang ditulis oleh Annabel Keeler dengan judul Mulla Sadra’s Commentary on Surah Sajjadah. (b). Artikel lainnya adalah sebuah artikel yang ditulis oleh Mohsen Saleh dengan judul ‘Being: the light of light (an Analysis of Mulla Sadra’s Commentary on the Verse of Light)’ dan (c). sebuah disertasi yang ditulis oleh Mohammed Rustom dengan judul ‘Qur’anic Exegesis in Later Islamic Philosophy: Mulla Sadra’s Tafsir Surah Al Fatihah’.

            Artikel Keeler dimaksudkan untuk menguji hermeneutika tafsir Mulla Sadra melalui surah al Sajjadah. Walaupun artikel ini mengulas tentang problem-problem ciptaan dalam framework ontologi Mulla Sadra, akan tetapi ia nampak hanya memberikan perhatian pada ayat ke-4 dari Surah ini. Selain itu pembahasannya terkesan sebagai pembahasan hermeneutik daripada studi atas prinsip-prinsi filsafatnya.

Sedangkan Saleh dalam artikelnya ‘Being: the light of light (an Analysis of Mulla Sadra’s Commentary on the Verse of Light)’ mengulas tema sentral tentang metaforisme cahaya ketika dikaitkan dengan wujud atau Tuhan. Cahaya hakiki (the real light) itu merupakan Tuhan itu sendiri sebagai wujud hakiki dari segala sesuatu. Sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki oleh wujud, maka konsepsi mental kita juga bisa memisahkan antara cahaya yang tak bergantung (independent light) dan cahaya bergantung (dependent light). Cahaya juga merupakan salah satu dari nama-nama Tuhan yang hadir pada semua esensi.

Pada artikel ini, Saleh selain membahas tentang cahaya dan kaitannya dengan Tuhan, isu penting lainnya yang ia ulas adalah relasi antara cahaya dengan manusia sempurna (al Insān Kamīl). Jika cahaya sepadan dengan wujud (Tuhan), maka simbolisme lampu (miyskāt) merepresentasikan diri nabi sebagai penampung seluruh nama-nama (asmā’) Tuhan. Jika cahaya bersifat sederhana (simple), maka lampu (miyskāt) sebagai istilah penting dalam Ayāh An Nūr secara metaforik menunjukan ketersusunan (tersusun dari wujud dan kuiditas). Jiwa Nabi menerima cahaya Tuhan, selanjutnya memantulkan balik cahaya tersebut ke seluruh komunitasnya (alam semesta). Sehingga melaluinya (al Insān Kamīl) sebagai refleksi sempurna dari cahaya Tuhan, umat manusia bisa melihat ‘Cahaya Tuhan’.

Karya berharga selanjutnya adalah sebuah disertasi Filsafat, Qur’anic Exegesis in Later Islamic Philosophy: Mulla Sadra’s Tafsīr Surah al- Fātihah, yang ditulis oleh Mohammed Rustom. Disertasi Rustom merupakan disertasi yang diterbitkan oleh Department of Near and Middle Eastern Civilization University of Toronto. Penelitian ini merupakan suatu upaya dari Rustom untuk menggambarkan susunan sumber-sumber karya Mulla Sadra dan kemampuan sintetis Sadra dengan kitab suci, khususnya pada Al Qur’ān Surah al- Fātihah. Lewat komentar Surah al- Fātihah, Rustom menghadirkan beragam kajian pembahasan penting semisal metafisika, kosmologi, antropologi, teologi dan soteriologi.

Disertasi Rustom telah memberikan inspirasi bagi peneliti untuk melakukan penelitian pada tafsīr surah al aʿlā dan memberikan gambaran umum terkait dengan hermeneutika Al Quran Mulla Sadra beserta kronologi penulisan karya-karya Al Quran Mulla Sadra berdasarkan urutan masa dan runtutan historis penulisannya. Akan tetapi cukup disayangkan karena Rustom kurang memberikan eksplorasi atas argumentasi-argumentasi filosofis yang dituangkan oleh Sadra dalam tafsir ini.

Setelah melakukan peninjauan atas penelitian-penelitian sebelumnya, peneliti tidak menemukan kesamaan judul dengan karya penelitian yang sejenis. Selain itu, tema penelitian yang peneliti angkat berbeda dengan penelitian-penelitian diatas, khususnya pada suatu upaya menangkap prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah yang dituangkan oleh Sadra saat mengelaborasi ayat-ayat Al Quran. Penelitian ini juga merupakan suatu upaya untuk menguji apakah usaha Sadra dalam menafsirkan Al Quran bisa menjadi bukti akan adanya keselarasan antara filsafat Sadra dengan wahyu? Oleh karenanya, penelitian yang akan peneliti lakukan akan melengkapi penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.

 

 

F. Metode Penelitian

Secara umum penelitian-penelitian pada area pemikiran Islam, khususnya pada kajian tasawuf dan filsafat adalah kualitatif. Penelitian ini berusaha untuk mendiskusikan prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah dalam tafsir Al Quran Mulla Sadra. Untuk mempersempit penelitian, peneliti memfokuskan diri pada studi analisis pada komentar Mulla Sadra atas Al Qurān Surah Al Aʿlā. Karena terkait dengan analisis teks-teks keagamaan dan mengujinya secara rasional dan filosofis, maka penelitian ini bisa digolongkan sebagai penelitian  kualitatif.

Penelitian ini juga bisa digolongkan sebagai penelitian pustaka. Oleh karenanya, dalam melaksanakan penelitian ini, pertama kali peneliti akan berusaha untuk mengumpulkan beberapa data penelitian dengan cara memilih beberapa buku, jurnal, artikel dan karya-karya ilmiah lainnya yang relevan dengan materi kajian. Untuk selanjutnya, semua data yang terkumpul akan dibagi menjadi dua bagian, yakni; data primer dan data sekunder.

Pada data primer, peneliti akan menelusuri karya-karya Mulla Sadra secara langsung atau penelitian-penelitian sejenis sebelumnya.  Karena tema penelitian yang peneliti akan kaji adalah berkaitan prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah dalam tafsīr Surah Al Aʿlā, maka peneliti akan lebih mengutamakan untuk merujuk pada karya-karya Mulla Sadra secara langsung, semisal:

1. Tafsīr Al Qurān Al Karīm (Vol. 1-7)

2. Mafātih Al Ghayb (Vol. 1 dan 2)

3. Asrār Al Ayāt

4 . Mutasyābihāt Al Qur’ān

5. Al Masyāir

6. Al Asfār Al Arbaʿah

7. Syawāhid Ar Rubūbiyah

Selain sumber primer yang dirujuk dari karya-karya Sadra secara langsung, digolongkan sebagai data sekunder. Selanjutnya, berkaitan dengan verifikasi data (keontetikan data), peneliti tidak akan melakukan verifikasi data secara langsung, tapi bersandar pada Muhaqqiq/ penerbit.

Setelah semua data terkumpul, peneliti akan berusaha untuk memahami dan menganalisanya secara objektif. Dikarenakan karya-karya utama Mulla Sadra hampir semuanya ditulis dalam bahasa Arab, tentu peneliti akan melakukan proses pemahaman berdasarkan bahasa ini dengan dibantu oleh beberapa karya terjemah dan data sekunder yang berbahasa Inggris dan Indonesia..

Langkah selanjutnya adalah melakukan analisa data. Karena jenis penelitian ini merupakan penelitian filsafat dan berkaitan dengan teks-teks keagamaan, maka peneliti akan menggunakan pendekatan hermeneutik (interpretasi). Pada penelitian ini, kandungan dalam tafsir ini diselami dan berusaha dengan setepat mungkin menangkap makna dan uraian yang disajikan oleh Sadra. Semua aspek-aspek dan konsep-konsep penting dilihat menurut keselarasannya satu sama lain. Ditentukan tema sentral yang menjadi pembahasan dan diteliti susunan logis-sistematisnya. Selain itu, menangkap tujuan menyeluruh yang mendominasi tafsir surah ini (surah al aʿlā), kemudian digunakan untuk memahami masing-masing uraian. Untuk memperluas, memperkaya dan memperdalam pembahasan, peneliti tidak hanya mencukupkan pada tafsīr Surah Al Aʿlā tapi akan melacak ulasan yang lebih detil dalam tafsir ayat-ayat lain atau karya-karya Sadra penting lainnya terkait istilah-istilah yang berhubungan dengan prinsip-prinsip logis filosofis yang dikutip dari tafsīr Surah Al Aʿlā.

Sebelum mengulas tema-tema utama yang tergali dalam tafsīr Surah Al Aʿlā dan menganalisanya secara mendalam, peneliti akan menjelaskan secara global elemen-elemen fundamental filsafat Hikmah Mutaʿāliyah. Pembahasan ini menjadi penting dikarenakan tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk menguji keselarasan antara filsafat Sadra dengan wahyu.

 

G. Sistematika Penelitian

Struktur dari penulisan penelitian ini akan disesuaikan dengan outline pada daftar isi. Bab pertama berisi tentang pendahuluan. Bab ini akan menjelaskan latar belakang masalah penelitian, identifikasi masalah, rumusan masalah, signifikansi penelitian, kajian terdahulu, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika penelitian.

Bagian latar belakang dan identifikasi masalah menggambarkan alasan peneliti memilih tema ‘studi analisa prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿāliyah dalam tafsīr Surah Al Aʿlā Mulla Sadra. Rumusan masalah menjelaskan persoalan-persoalan yang hendak dijawab oleh peneliti. Signifikansi penelitian memaparkan tujuan dan manfaat yang bisa dicapai. Kajian terdahulu memberikan gambaran konsentrasi dan perbedaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, dan sementara metode penelitian mendeskripsikan tentang metodologi yang akan digunakan oleh peneliti.

Bab ke-dua akan mendiskusikan prinsip-prinsip epistemologi dan ontologi filsafat Hikmah Mutaʿāliyah. Pada ranah epistemologi, ada 2 tema utama yang menjadi pembahasan yakni penyingkapan realitas (kasyf al haqāiq) dan justifikasi (taujīh). Sedangkan pada ranah ontologi, peneliti akan mengulas prinsip-prinsip metafisika yang relevan dengan tafsīr Surah Al Aʿlā Mulla Sadra seperti kausalitas (‘lllah wa Ma’lul), ontologi jiwa (anfs fi wahdatihi kullu quwwa) dan akal teoritis dan akal praktis (‘aql nazori wa aql ‘amali). Pada bab ini peneliti cukup meyakini kekuatan argumentasi metafisis filsafat Hikmah Mutaʿāliyah, karena pembuktian kebenaran tiap postulat Sadra bukan menjadi tujuan pada penelitian ini.

Pada bab tiga dan empat, peneliti akan memusatkan kajian pada upaya menjelaskan kebutuhan yang sangat penting, yakni tafsīr Surah Al Aʿlā terhadap prinsip-prinsip filosofis yang kuat. Pada bab ke-tiga, ada dua tema utama yang jadi pokok pembahasan, yaitu tentang ketuhanan dan kenabian. Sedangkan pada bab ke-empat peneliti hanya membahas satu tema penting, yakni tentang eskatologi (maʿād).

Tujuan utama pembahasan pada bab ke-tiga dan ke-empat adalah peneliti ingin mengungkap prinsip-prinsip logis filosofis apa saja yang bekerja dalam penafsiran Sadra atas tafsīr Surah Al Aʿlā, dan selanjutnya berupaya untuk melakukan studi analisa apakah usaha Mulla Sadra dalam penfasiran Al Quran dapat menjadi bukti akan adanya keselarasan antara filsafat Hikmah Muta’aliyah dengan wahyu? Dan sejauh manakah keberhasilannya?

Kemudian pada bab ke-lima sebagai bab terakhir dari pembahasan, peneliti akan akan menyampaikan kesimpulan akhir, saran ataupun kritik menyangkut tema penelitian sebagai jawaban atas masalah yang dirumuskan pada bab pertama. Dan dari saran yang akan diberikan, sangat memungkinkan untuk diadakan penelitian selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Para filsuf peripatetik melakukan penyingkapan realitas dengan perangkat hukum-hukum akal. Ketika kesimpulan falsafi tidak sejalan dengan klaim-klaim wahyu, maka mereka melakukan ta’wīl. Hal ini dikarenakan tidak adanya takhsīs (pengecualian) dalam hukum akal, sedangkan teks bisa menerima ta’wīl. Dan sepertinya di dalam beberapa hal Sadra juga menerapkan hal ini.

[2]   قال الإمام موسى بن جعفر عليهما السلام: يا هشام إن لله حجتين, حجة ظاهرة و حجة باطنة, فأما الظاهرة فالرسل و الأنبياء و الأئمة,و أما الباطنة فالعقول. و قال الإمام جعفر بن محمد الصادق عليهما السلام: حجة الله على العباد النبي, و الحجة بين العباد و بين الله العقل.

[3] Hossein Nasr, The Qur’an And Hadith As Source And Inspiration Of Islamic Philosophy

[4] Kamāl Al Haedary, Durūs fī al Hikmah al Mutaʿāliyah: Syarh Bidāyah al Hikmah, Vol. 1, Dār farāqid, hal. 38

[5] Ibid, hal. 39

[6] Ibid, hal. 79

[7] Paska kritik-kritik pemikiran filosofis yang dilakukan oleh Aristotels terhadap gurunya, maka di Yunani muncul 2 aliran besar  dalam bidang filsafat.  Kelompok pertama diwakili oleh Plato, sedangkan yang kedua dipimpin oleh Aristoteles. Pada periode-periode selanjutnya selalu muncul pendukung masing-masing aliran ini. Perdebatan filosofis diwariskan dari masa ke masa dari wilayah Yunani, ke Aleksandria Mesir hingga ke dunia islam. Dan sebagaimana dikenal, dalam sejarah perdebatan pemikiran filososfis sebelum Mulla Sadra munculah dua aliran dalam filsafat Islam, yakni aliran peripatetik (Masyā’iyah) dan Iluminatif (Isyrāqiyah). Lihat:  Ibid, hal. 107

[8] Mulla Sadra sangat menekankan adanya suatu upaya dimana filsafat dan irfan mampu berkolaborasi guna menafsirkan teks-teks agama. Upaya sadra tersebut dibuktikan dengan kentalnya nuansa Qur’ani yang menghiasi seluruh karya filosfisnya. Bahkan menurut Hosein Nasr, ‘tak seorang pun filosof sepanjang sejarah filsafat islam yang memberikan perhatian sebegitu besar pada Al Quran sebagai sumber pengetahuan filosofis dan teosofi, dan banyak menulis tafsir Al Quran sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mulla Sadra’. ‘Tafsir-tafsir Al Quran Mulla Sadra merupakan kelanjutan dari teosofi transenden-nya, dan teosofi transenden-nya merupakan hasil dari perkembangan makna batin Al Quran sebagai bentuk keselarasan antara wahyu dan akal/ intelek’ lihat:  Hossein Nasr, Mulla Sadra: Ajaran- Ajarannya dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam (Buku Ke-dua), (Bandung: Mizan, 2003), hal. 927

[9] Mohammed Rustom , Qur’anic Exegesis in Later Islamic Philosophy: Mulla Sadra’s Tafsīr Surah  al Fātihah. University of Toronto, 2009, hal. 245-246

[10] Latimah Parvin Peerwani, Translator’s Introduction pada On the Hermeneutics of the Light Verse of the Qurān (Tafsīr Ayah Al Nūr), ICAS Press, hal. 11

[11] M. Khamenei, Exegesis Fundamentals and Qur’anics for Mulla Sadra, (SIPRIn@mullasadra.org). Lihat juga: Muhammad Khajawi, Pengantar Tafsir Sadra, hal. 124-125

[12] M. Khamenei, The Qur’anic Hermeneutics of Mulla Sadra (Tehran: SIPRiN Publications, 2006 = 1385), hal. 29

[13] Muhammad Khājavī, Pengantar Tafsīr Sadra, Intisyārāt bīdār, Iran: Qom, hal. 122

[14] Latimah Parvin Peerwani, Translator’s Introduction pada On the Hermeneutics of the Light Verse of the Qurān (Tafsīr Ayah Al Nūr), ICAS Press,   hal 15

[15] Muhammad ‘Abdul Haq, An Aspect of the Metaphysics of Mulla Sadra, Islamic Studies (Islamabad) 9:4 (1970),  hal. 339

[16] Latimah Parvin Peerwani, Translator’s Introduction pada On the Hermeneutics of the Light Verse of the Qurān (Tafsīr Ayah Al Nūr), ICAS Press,  hal. 15

[17] Realitas wujud Manusia juga terbagi menjadi 3 tingkatan dasar yang saling terhubung, yakni; Pertama, level indera yang terdiri dari 5 indera eksternal. Kedua, level imaginasi. Pada level ini, gambaran sesuatu hadir dalam bentuk forma tanpa materi fisik. Kedua, level intelektual (spiritual). Pada level intelektual, realitas hadir murni dari sifat materi karena ia bersifat universal.

[18] M. Khamenei, The Qur’anic Hermeneutics of Mulla Sadra (Tehran: SIPRiN Publications, 2006 = 1385), hal. 36. Lihat juga : M. Khamenei, Exegesis Fundamentals and Qur’anics for Mulla Sadra, (SIPRIn@mullasadra.org).

[19] Latimah Parvin Peerwani, Translator’s Introduction pada On the Hermeneutics of the Light Verse of the Qurān (Tafsīr Ayah Al Nūr), ICAS Press,, Hal 35

[20] Opcit, hal. 36. Lihat juga : M. Khamenei, Exegesis Fundamentals and Qur’anics for Mulla Sadra, (SIPRIn@mullasadra.org). Lihat juga: Muhammad Khajawi, Pengantar Tafsir Sadra, hal. 124-125. Lihat juga: Muhammad Khājavī, Pengantar Tafsīr Sadra, hal. 122 – 123

[21] Mulla Sadra, Mafātih Al Ghayb, Muassasah T ārih al ‘Arabi, Bīrut,  Vol 1., hal. 98

[22] Salah satu prinsip terpenting dari filsafat Hikmah Muta’āliyah adalah tentang tasykīk al wujūd. Tasykīk al wujūd merupakan gambaran bahwa wujud selain memiliki sifat ketunggalan, ia juga memiliki sifat bergradasi. Hal ini disebabkan oleh tingkatan kualitas yang ada pada wujud itu sendiri. Hal ini juga bisa dipahami bahwa wujud itu memiliki dua sifat pada saat yang bersamaan, yakni ketunggalan (univokal) dan kejamakan/ pluralitas (ekuivokal).

[23] Selain alam materi (dunia ini), ada alam-alam dan kehidupan sebelumnya yang juga akan menjadi tempat kembali setelah melewati kehidupan di alam ini. Alam-alam tersebut adalah ‘ālam māddah, ālam mitsāl, ‘ālam aqal, dan ‘ālam rubūbiah. ‘Ālam mitsāl yang biasa disebut juga sebagai ‘ālam barzah ini merupakan alam penghubung antara alam  materi (‘ālam māddah) dengan alam intelek (‘ālam aqal). ‘Ālam aqal merupakan alam yang suci dari potensialitas materi, sempurna dan tak terangkap (basīṭ). Ia merupakan emanasi/ tajalli pertama dari tuhan. Sedangkan ‘ālam rubūbiah merupakan alam ketuhanan, ia adalah awal dan akhir dari perjalanan seluruh makhluk. Lihat : Tolal Hasan, Min al Kholq ilā al Haq: min abhās Sayyid Kamāl Al Haedarī, Mu’assasah Imām Jawād, hal. 18

[24] Latimah Parvin Peerwani, Translator’s Introduction pada On the Hermeneutics of the Light Verse of the Qurān (Tafsīr Ayah Al Nūr), ICAS Press, hal. 16

[25]Lihat:  Mulla Sadra, Al Asfār Al Arbā’ah, vol. 2, hal. 344

[26] Latimah Parvin Peerwani, Translator’s Introduction pada On the Hermeneutics of the Light Verse of the Qurān (Tafsīr Ayah Al Nūr), ICAS Press,, hal. 18

[27] Ibid, hal 13

[28] Mulla Sadra, Tafsīr Surah as Sajadah, Intisyārāt bīdār, Iran: Qom, Vol. 6, hal. 40. Lihat juga: Tafsīr Surah Al Aʿlā, Intisyārāt bīdār, Iran: Qom, Vol 7, hal.  342

[29] Mulla Sadra, Tafsīr Surah Al Aʿlā, Intisyārāt bīdār, Iran: Qom, Vol. 7, hal. 342

[30] Burhan semacam ini, dikenal di kalangan para filsuf sebagai ‘qā’idah al imkān al asyrāf’. Faedah dari kaidah ini adalah al mumkīn al asyrāf (wujud bergantung yang lebih utama) wajib lebih dulu adanya ada dibandingkan oleh al mumkīn al akhos (wujud bergantung yang lebih hina).  Maka jika ditemukan al mumkīn al akhos, maka melazimkan adanya al mumkīn al asyrāf  terlebih dahulu.  Kaedah semacam ini juga digunakan oleh para filsuf peripatetik. Lihat: Mulla Sadra, Al Asfār Al Arbā’ah, Vol. 7, hal. 244.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: