ASHALATUL WUJUD: SEBUAH FONDASI UNTUK MENGENAL REALITAS

29 Jan

Oleh                        : KERWANTO

 

ASHALATUL WUJUD: SEBUAH FONDASI UNTUK MENGENAL REALITAS

Pembahasan tentang wujud merupakan pembahasan yang paling mendasar bagi kehidupan manusia, karena merupakan pembahasan yang berkaitan langsung dengan realitas manusia. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh beberapa filosof muslim, termasuk Alamah Tabatabai, bahwa tujuan dari kajian mendalam terhadap filsafat ketuhanan adalah agar manusia mampu mengungkap realitas, membedakan antara hakikat realitas yang satu dengan yang lainnya, dan mengenal rangkaian sebab-akibat, khususnya terkait dengan sebab pertama, yakni Tuhan Yang Maha Suci.[1] Penguasaan terhadap pembahasan ini, bisa dikatakan, kita telah memegang kunci untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar filsafat selanjutnya, khususnya berkaitan dengan ontologi dan epistemologi filsafat Islam.

Dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan beberapa istilah penting yang berkaitan dengan wujud dan beberapa argumen yang telah dibangun oleh beberapa filosof untuk membuktikan ke-ashalahan-nya.

 

Istilah Wujud

Kata wujud merupakan masdar yang berarti kejadian atau peristiwa. Kata jadian ini bisa disandarkan pada subjek (fa’il) maupun objek (maf’ul). Dalam bahasa persia bisa disepadankan dengan ‘budan’ (yang berarti suatu peristiwa yang terjadi) dan dalam bahasa inggris dengan ‘to be’[2]. Dari perspektif gramatikal, kata maujud adalah ism maf’ul (kata benda pasif) yang menunjukan hasil tindakan verba atas suatu dzat /esensi. Dari maujud terkadang juga suatu masdar artifisial dimunculkan seperti dalam bentuk maujudiyah (kemaujudan) yang digunakan sepadan dengan wujud atau eksistensi. Kosakata Arab yang dipakai dalam bentuk masdar terkadang tidak dihubungkan dengan subjek atau objek, lalu dipakai dalam bentuk ism masdar (nomina verbal) yang menunjukan hasil kerja verba itu sendiri.

Lebih sederhananya, Reza Shadr (murid Thabathaba’i) membagi wujud menjadi dua bagian,[3] yakni; pertama, wujud sebagai pengertian umum, yaitu arti umum dan aprior yang menjadi dasar perangkaian kata serta menjadi predikat yang diletakan pada setiap quiditas (mahiyah), misalnya ’manusia itu ada’, ‘bulan itu ada’, ‘putih itu ada’; kedua, wujud sebagai pengertian khusus (terikat), yaitu predikat yang diletakan atas sesuatu, misalnya ’benda itu putih’, yang berarti ‘benda yang ada itu berwarna putih’. Dengan demikian, pengertian ‘wujud yang umum’ itu merupakan wujud subjek, sedangkan pengertian ‘wujud yang terikat’ adalah wujud predikat dalam setiap premis.

Akan tetapi Menurut Mishbah Yazdi, istilah wujud yang dimaksudkan dalam filsafat ini bukanlah makna masdar sebagaimana yang dimaksud diatas. Wujud bukanlah sebatas konsep yang menjadi hidangan diskusi kebahasaan semata. Wujud dalam makna teknis filsafat merupakan realitas mutlak dan lawan dari ketiadaan (nothingness). Wujud mencakup segala hal, mulai dari Dzat Kudus Ilahi, realitas-realitas abstrak dan material, baik substansi maupun aksiden dan baik esensi maupun keadaan.[4]

 

Ke-badihi-an konsep wujud

Konsep wujud merupakan konsep yang paling badihi yang diabstraksikan benak manusia dari seluruh keberadaan. Konsep wujud ini tidak butuh definisi, bahkan kita tidak mungkin mendefinisikannya[5]. Konsep wujud ini bersifat badihi, maksudnya, setiap orang mengetahuinya dengan ilmu huduri dan mental kita secara otomatis mampu mengambil konsep wujud tersebut. Mishbah Yazdi menyatakan, wujud itu serupa dengan ilmu atau pengetahuan, baik dipandang dari segi konsepnya ataupun realitas objektifnya. Sebagaimana konsep pengetahuan, maka ia tidak memerlukan definisi, dan bahkan keberadaan ‘pengetahuan’ sebagai realitas yang menjelma pun tidak memerlukan pembuktian. Ketika menggunakan akal sehat, kita akan bisa meyakini bahwa wujud adalah sesuatu yang punya realitas dan kenyataan, demikian pula wujud manusia dan wujud-wujud lainnya.[6]

Gharawiyan menegaskan bahwa, bahkan jika ada orang yang mencoba untuk mendefinisikan konsep ini, maka ia akan terjebak pada kesalahan berfikir (daur). Misalnya, jika ada orang mendefinisikan wujud dengan ‘sesuatu yang nyata secara objektif’, maka kita bisa menayakan apa yang dimaksud dengan ‘nyata’? jika dijawab, nyata sama dengan objektif. Selanjutnya kita bisa menanyakan lagi apa yang dimaksud dengan ‘objektif’? jika dijawab bahwa objektif sama dengan mewujud, maka akan terjadi daur. Inilah alasan, mengapa wujud disebut dengan badihi, sesuatu yang tidak membutuhkan definisi.[7]

Prinsip ke-badihi-an inilah yang sekaligus menjadi dasar bagi para filosof muslim, termasuk Ibnu Sina sebagai sang filsuf paripatetik dan Mulla Sadra sebagai filsuf Hikmah Muta’aliyah, yang meyakini bahwa yang utama dan real adalah wujud. Sedangkan Syaikh Isyraq, dengan filsafat Iluminasi-nya, menganggap mahiyah-lah yang real dan hakiki.

Jadi, untuk menjelaskan konsep wujud tidak memerlukan persyaratan mediasi apapun, baik dalam bentuk penjelas (mu’arrif), definisi (had) ataupun deskripsi (rasm), karena keberadaannya lebih jelas daripada istilah apapun yang menjelaskannya (mu’arraf).[8] Lebih detilnya, keberadaannya tidak memiliki genus (jins), atau diferentia (fasl), maupun konsep-konsep universal lainnya (al Kulliyat al khams).

 

Istilah Mahiyah

Setelah memahami istilah dan prinsip ke-badihi-an konsep wujud, maka selanjutnya harus memahami apa itu yang dimaksud dengan Mahiyah. Mahiyah berasal dari bahasa Arab yang bermakna ‘ke-apa-an’. Misalnya konsep ‘ke-manusia-an’, ‘ke-pohon-an’, ‘ke-kuda-an’, ‘ke-batu-an’ dan lain-lain adalah serangkaian mahiyah atau ‘ke-apa-an’ yang ada di alam ini. Menurut Gharawiyan,[9] kita dapat mengatahui perbedaan satu wujud dari wujud lainnya melalui mahiyah-nya. Misalnya, perbedaan antara manusia dan kuda adalah bahwa manusia dari sisi ke-mahiyah-annya adalah hewan yang memiliki potensi berfikir sedangkan kuda adalah hewan yang meringkik.

Lebih lanjut, kata mahiyah dalam filsafat memiliki makna umum dan khusus. Namun, mahiyah dalam pembahasan ini (filsafat) adalah mahiyah yang memiliki makna khusus. Makna khusus mahiyah adalah ‘sesuatu yang dikatakan sebagai jawaban atas pertanyaan “apakah itu?” (maa yuqolu fi jawabi ma huwa).[10] Tentunya ia bisa diterapkan pada segenap maujud yang dapat dikenali oleh pikiran yang secara teknis dikatakan memiliki batasan-batasan spesifik eksistensi (specific limits of existence) dan apapun yang terlintas dalam benak sebagai bentuk objek-objek universalia primer (primary intelligibles) / konsep-konsep mahiyah (whatish concepts).[11]

Konsep mahiyah diatas, bisa didapatkan oleh abstraksi akal (mental kita). Inilah kelebihan akal manusia yang mampu mempersepsi hal-hal yang bersifat universal. Akal juga mampu menangkap konsep yang memiliki misdaq yang tak terhingga,[12]  misalnya; ketika kita melihat benda yang berwarna putih, selain mempersepsi bentuk benda tersebut, kita juga mampu mempersepsi konsep universal ‘putih’, kualitas, kuantitas, relasi dan sebagainya. Inilah yang mendasari dan mengisyaratkan bahwa melalui  konsep mahiyah inilah kita mampu memilah-milah dan menunjukan perbedaan antara wujud yang satu dengan yang lainnya. walaupun dari sisi wujud-nya, segala sesuatu tidak memiliki perbedaan. Jika ada perbedaan, itu hanyalah perbedaan intensitas (derajat semata).

 

Ashalatul [13]Wujud wa I’tibariyatul Mahiyah

Para filosof telah berbeda pendapat tentang manakah yang benar-benar real (ashil) antara wujud dan mahiyah. Filsafat paripatetik Ibnu Sina berpendapat bahwa yang ashalah adalah wujud, sedangkan iluminasi syieikh Isyraq berpegangan akan kehakikian mahiyah (kuiditas).

Sebagaimana dijelaskan diatas, Syaeikh Isyraq yang sering disebut-sebut sebagai pendukung fundamentalitas (ashlatul) mahiyah, lawan dari pandangan ashalatul wujud, mendasarkan keyakinannya pada argumen berikut:

Jika yang utama dan real tersebut adalah wujud, maka yang mewujud di luar adalah wujud. Wujud tersebut pastilah memiliki atribut kewujudan dan sesuatu yang mewujud pastilah terdapat pada dirinya wujud sehingga terjadi regresi (tasalsul) dan regresi adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Selain alasan yang dikemukakan Syaikh Isyraq, penolakan terhadap wujud sebagai realitas yang utama didasarkan bahwa karena wujud merupakan konsep yang paling umum dibandingkan segala sesuatu, wujud sebenarnya tidak lebih sebagai konsep sekunder (ma’qul al tsani).[14]

Pandangan tersebut ditolak oleh Mulla Sadra. Mengamini pendapat Mulla Sadra,  Tabataba’i mengemukakan argumen bahwa wujud mewujud (secara eksternal), tetapi wujudnya wujud dengan zatnya sendiri sehingga tidak menyebabkan regresi.[15]

Mulla Sadra, pendiri filsafat Hikmah Muta’aliyah, membenarkan pandangan Ibnu Sina, yang menganggap bahwa wujud-lah yang utama dan real, sedangkan mahiyah hanyalah abstraksi mental. Untuk itu, Mulla Sadra mengemukakan argumen filosofisnya:[16]

1). Mahiyah sebagai mahiyah berada dalam kecenderungan yang sama terhadap wujud dan ketiadaan. Ketika mahiyah keluar ke tingkat wujud bukan dengan perantaraan wujud, pastilah terjadi perubahan substansial pada hakikat mahiyah (inqilab) dan hal tersebut tidak mungkin. Karenanya, satu-satunya hakikat yang mengeluarkan mahiyah ke tingkat wujud adalah wujud itu sendiri,

2). Mahiyah merupakan sumber perbedaan. Setiap mahiyah berbeda dari mahiyah lainnya. Dalam hal ini, masing-masing tidak memiliki kesatuan yang sama. Jika tidak ada realitas yang menyatukan hal-hal yang berbeda tersebut dan menggabungkannya, maka tidak ada proposisi yang mempredikatkan satu mahiyah kepada mahiyah yang lain. Karena itu, diperlukan satu realitas dasar yang menggabungkan berbagai mahiyah tersebut. Realitas tersebut adalah wujud.

3). Mahiyah mewujud dengan wujud eksternal sehingga memiliki efek (api membakar, air membasahi) dan pada saat yang sama, mewujud juga pada wujud mental (dzihni) dan tidak memiliki efek sebagaimana mahiyah eksternal. Jika yang real dan hakiki adalah mahiyah, pastilah efek yang ditimbulkan sama pada dua keadaan tersebut dan tidak terjadi perbedaan. Fakta menunjukan sebaliknya sehingga hal tersebut pasti keliru dan kerenanya, wujudlah yang utama dan real.

4). Mahiyah netral dalam keadaannya, baik antara intensitas dan kelemahan, kepadatan maupun ketidakpadatan. Namun, pada realitas eksternal, kita melihat ada yang intens (seperti sebab) dan ada yang lemah (seperti akibat). Jika bukan wujud yang real dan hakiki, maka perbedaan atribut tersebut kembali kepada mahiyah, padahal mahiyah bersifat netral. Jelas wujudlah yang real dan hakiki.

Berdasarkan pada argumentasi-argumentasi diatas, mahiyah dengan sendirinya tidak bisa mewakili realitas luar dan misdaq realitas objektif di luar. Sebaliknya, wujud adalah satu-satunya misdaq objektif dari realitas eksternal dan mahiyah hanya sekedar konsepsi i’tibari (majasi). Prinsip  ashalatul wujud inilah yang diyakini sebagian besar filosof muslim, khususnya pendukung filsafat Hikmah Muta’aliyah.

 

Kesimpulan

Prinsip ashalah/ fundamental wujud termasuk pembahasan yang hangat dibicarakan oleh para filosof muslim, khususnya pengikut filsafat Hikmah Muta’aliyah. Hal ini dikarenakan, prinsip ini merupakan prinsip yang paling dasar di antara beberapa prinsip yang ada dalam filsafat Hikmah Muta’aliyah. Prinsip ini sekaligus merupakan pondasi dalam menjelaskan prinsip-prinsip lainnya, seperti gradasi wujud, gerak substansi dan prinsip-prinsip lainnya. Bahkan bisa dikatakan, bahwa jika ada yang menolak prinsip fundamental wujud ini, berarti sama saja menolak prinsip-prinsip lain filsafat hikmah Muta’aliyah. Berdasarkan hal ini, maka prinsip fundamental wujud memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam sistem pemikiran filsafat Islam, lebih khusus pengikut filsafat Hikmah Muta’aliyah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Tabatabai, Bidayah al Hikmah: Buku Panduan Peneliti Muda, Ibn Arabi & Mulla Sadra Corner: Jakarta, 2011, hal . 1

[2] M. T. MisbahYazdi, Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer, Shadra Press: Jakarta, 2010,  hal. 215

[3] Muhsin Labib, Pemikiran Filsafat Ayatullah M. T. Mishbah Yazdi: Studi Atas Filsafat Pengetahuan, Filsafat Wujud dan Filsafat Ketuhanan, Shadra Press: Jakarta, 2011,  hal.193. Lihat juga: Reza Shadr, al-falsafah al-ulya, daftare Tablighat, hal. 80.

[4] Opcit, hal. 218

[5] Mohsen Gharawiyan, Pengantar memahami Buku Daras Filsafat Islam: Penjelasan Untuk Mendekati Analisis Teori Filsafat Islam, Shadra Press: Jakarta, 2012, hal. 78

[6] M. T. MisbahYazdi, Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer, Shadra Press: Jakarta, hal. 219-220

[7] Opcit, hal. 78-79

[8] Tabatabai, Bidayah al Hikmah: Buku Panduan Peneliti Muda, Ibn Arabi & Mulla Sadra Corner: Jakarta, 2011,

[9] M. T. MisbahYazdi, Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer, Shadra Press: Jakarta, hal 87

[10] Opcit,  hal. 3

[11] Muhsin Labib, Pemikiran Filsafat Ayatullah M. T. Mishbah Yazdi: Studi Atas Filsafat Pengetahuan, Filsafat Wujud dan Filsafat Ketuhanan, Shadra Press: Jakarta, hal. 230- 231

[12]  Opcit, hal. 88

[13] Ashalah berakar dari kata ‘ashl’ yang bermakna dasar dan prinsip. Ashalah dalam terminologi filsafat, sering dilawankan dengan ‘i’tibari’ (majasi). Maksud dari konsep yang berlawanan ini adalah untuk mencari manakah diantara wujud dan mahiyah ini yang benar-benar menjelma dalam realitas ekstenal di luar diri kita. Atau dengan pernyataan lain, apakah wujud yang menjadi dasar realitas ekternal dan mahiyah hanya i’tibari (majasi)? Atau sebaliknya, mahiyah-lah yang menjadi dasar realitas eksternal sedangkan wujud hanyalah i’tibari (majasi)?

[14] Kholid Al Walid, Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat: Filsafat Eskatologi Mulla Shadra, Sadra Press: Jakarta, 2012, hal. 35. Lihat Juga: Rahman, Philosophy of Mulla Sadra, hal. 35

[15] Tabatabai, Bidayah al Hikmah: Buku Panduan Peneliti Muda, Ibn Arabi & Mulla Sadra Corner: Jakarta, 2011, hal. 4

[16] Kholid Al Walid, Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat: Filsafat Eskatologi Mulla Shadra, Sadra Press: Jakarta, 2012, hal. 35-36. Lihat juga: Mulla Sadra, al-asfar, J. I. Hal. 38-37. Lihat juga: Tabatabai, Bidayah al Hikmah: Buku Panduan Peneliti Muda, Ibn Arabi & Mulla Sadra Corner: Jakarta, 2011, hal. 4

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: